Senin, 14 Desember 2009

Between us (chapter 3)


Gayoong kaget dengan sosok yang memanggilnya itu. Lalu, ia dengan cuek pergi seakan tak peduli dengan sosok tersebut. Melihat Gayoong malah pergi meninggalkannya, sosok itu langsung mengejar Gayoong.

"Tunggu!" katanya sambil memegang tangan kiri Gayoong untuk mencegah pergi.

"Kau mau apa lagi, Ryeowook?" tanya Gayoong kesal. Rupanya yang memanggil Gayoong adalah Ryeowook.

"Aku ingin bicara denganmu," ujar Ryeoeook.

"Aku tak punya banyak waktu, cepat katakan disini," kata Gayoong.

"Tidak bisa disini!"

"Kalau begitu aku pergi. Aku tak ada waktu untuk mengurus orang sepertimu, tahu?"

"Ah, baiklah! Aku minta maaf! Tadi aku sudah keterlaluan! Gara-gara aku kau jadi mendapat pengalaman buruk. Tapi aku berjanji, akan memperbaiki ponselmu secepatnya." Ryeowook terpaksa mengatakannya.

"Ponsel sih tak masalah, tapi bagaimana dengan ini?" tanya Gayoong sambil menunjukkan tangan kanannnya.

"Kau mau aku bagaimana?" tanya Ryeowook.

Gayoong berfikir sebentar. Ia lalu terfikir akan ide bagus. Ia tersenyum dan mengatakan pada Ryeowook,

"Kau tahu kan tanganku ini sangat berharga, apalagi yang kanan. Aku menulis, makan, dan melakukan aktivitas lain rata-rata dengan tangan ini. Tapi gara-gara kau sekarang, aku jadi tak leluasa bergerak. Maka tugasmu adalah MELAYANIKU SAMPAI TANGAN INI SEMBUH. Jika kau menuruti perintahku, maka aku akan memaafkanmu. Deal?"

"Kau.. Serius?!" Ryeowook tak percaya.

"Masa tidak?" kata Gayoong "Deal or no?"

"Akh.. Deal," dengan sangat terpaksa Ryeowook menyetujuinya. Padahal sebenarnya ia tak ingin melakukan hal itu, tapi karena ia merasa sangat bersalah pada Gayoong, ia terpaksa melakukan apapun asal dimaafkan.

"Ok, bagus. Sekarang antar aku pulang, cepat!" suruh Gayoong.

"Mwo? Mengapa aku harus mengantarmu?"

"Kau ini pikun atau babo atau idiot, sih? Kau kan sekarang 'budak'! Dan aku majikan! Jadi, budak harus patuh pada majikan! Cepat antar aku pulang!" perintah Gayoong.

"Tapi.. Naik motor, tak apa?" tanya Ryeowook.

"Tentu saja tak apa! Sudah cepat! Kau banyak omong!"

"Ne, ne! Ayo ke parkiran," ajak Ryeowook.

Gayoong dan Ryeowook akhirnya berjalan menuju parkiran. Gayoong tersenyum puas, sedangkat Ryeowook cemberut.

"Marah-marah cepat tua, lho.." canda Gayoong.

"Diam kau!" bentak Ryeowook kesal, sementara Gayoong hanya tertawa.

***

Setelah Ryeowook mengantar Gayoong pulang, ia kembali ke sekolah. Dengan kesal ia berjalan menuju kelasnya dan langsung duduk dibangkunya.

"Habis darimana kau?" tanya Kyuhyun.

"Darimana saja bukan urusanmu," jawab Ryeowook ketus.

"Meminta maaf ke Gayoong?" tebak Kibum.

"Mwo? Untuk apa aku harus meminta maaf, hah? Hal yang mubazir!" kata Ryeowook.

"Kau jangan begitu, ia kasihan tahu. Tangannya bahkan sampai harus diperban," ujar Donghae.

"Ne, aku tahu!" Ryeowook keceplosan.

"Kau tahu?" tanya Donghae heran "Bagaimana kau bisa tahu?"

"Itu.." Ryeowook tampak berfikir "Kalau tangan berdarah, kan pasti harus diperban! Apalagi kalau darahnya banyak!"

"Kau tahu darimana tangannya berdarah?" tanya Kyuhyun.

Ryeowook tak bisa berkata. Ia diam sambil menundukkan kepala. Babo! Malah keceplosan! Aah, bagaimana ini? Ryeowook berfikir keras.

"Ryeowook, jangan-jangan kau daritadi mengikuti kami?" tebak Kibum.

"Tidak! Untuk apa aku mengikuti kalian?" Ryeowook berbohong.

"Lalu kalau tidak, darimana kau tahu tangan Gayoong berdarah dan diperban?" tanya Kyuhyun.

"Ti.. Tidak!" Ryeowook mulai gugup.

"Jadi tadi saat kita mengurusi Gayoong, kau dimana? Soalnya kami tidak melihatmu." Kibum semakin mendesak Ryeowook.

"Kau mengikuti kami, dan kau tadi mengikutiku dan Gayoong ke rumah sakit. Benar kan?" Donghae tepat 100%.

"Sudahlah, diam! Aku malas membahasnya lagi!" Ryeowook beralasan agar tidak ditanya-tanya lagi.

Donghae, Kibum, dan Kyuhyun hanya tersenyum seakan meledek Ryeowook.

"Ah, Kyu, bagaimana pekerjaanmu kemarin? Menyenangkan?" Ryeowook sengaja mengganti topik pembicaraan.

"Ya, dan aku berkenalan dengan seseorang yang juga bekerja disana. Katanya, sih dia artis baru. Namanya Eunhee. Tapi aku belum pernah dengar nama itu! Apa kalian tahu dia?"

"Eunhee?!" Kibum tampak kaget "Jangan-jangan.. Kim Eunhee?"

"Ya, dia! Kau tahu?" tanya Kyuhyun.

"Tentu saja! Tapi aku mengetahuinya bukan sebagai artis. Aku tahu dia dulu adalah seorang pianis terkenal, bahkan kabarnya ia pernah diajari oleh Hee Ah Lee!"jelas Kibum.

"Hee Ah Lee?! Berarti Eunhee.. dia adalah pianis yang handal?" tanya Ryeowook.

"Aku juga kurang tahu.. Tak kusangka dia sekarang menjadi seorang entertainer!" ujar Kibum.

"Katanya, dia akan muncul diacara Chit Chat," ujar Kyuhyun.

"Chit Chat? Itu kan acara yang akan dimulai malam ini. Nanti aku mau nonton, aah." kata Donghae.

Disaat mereka sedang asyik mengobrol, tiba-tiba seorang guru masuk ke kelas. Berarti, kelas sudah akan dimulai dan mereka kembali belajar.

***

KRIIING !~

Begitu mendengar bunyi tersebur, seluruh siswa langsung berhamburan keluar kelas untuk pulang kerumahnya masing-masing. Namun keempat sekawan tersebut masih berada didalam kelas.

"Semuanya, hari ini aku pergi duluan," pamit Kyuhyun.

"Hari ini kerja lagi?" tanya Ryeowook. Kyuhyun mengangguk.

"Ah, hari ini aku juga harus pulang cepat, karena hari ini aku harus berkemas," Kibum ikut pamit.

"Aku juga ada urusan dirumah sakit," tambah Donghae.

"Rumah sakit?" tanya Kyuhyun.

"Ya, temanku ada yang dirawat disana. Aku mau menjenguknya," jelas Donghae "Ryeowook, kau mau ikut denganku tidak?"

Life couldn't get better~

Tanda bahwa ponsel Ryeowook menerima SMS. Ryeowook lalu membaca SMS itu. Isinya:

Datang kerumahku, cepat! Aku punya tugas untukmu. Ingat! Budak tak boleh membantah majikan.

-Gayoong-

Raut muka Ryeowook yang semula ceria berubah menjadi kesal dan malas. Dia tahu darimana nomorku? Tanya Ryeowook dalam hati.

"Mian, aku tak bisa, Donghae. Aku.. Sudah ada acara lain," tolak Ryeowook.

"Hm, Ok. Kalau begitu ayo kita pergi," ucap Donghae.

Keempat sekawan itu lalu berjalan keluar sekolah dan bersiap mengendarai motornya masing-masing. Dan ketika Kyuhyun mau pergi, ada seseorang menyapanya.

"Oppa! Hey, oppa!"

Kyuhyun lalu menoleh kearah suara itu. Rupanya yang memanggilnya adalah Eunhee.

"Eunhee!" Kyuhyun lalu memdekati Eunhee "Sedang apa disini?"

"Ani, tadi aku kebetulan lewat sini dan aku teringat akan oppa. Makanya aku menunggu oppa pulang sekolah supaya kita bisa berangkat ke kantor bersama. Oppa hari ini kerja, kan?"

"Ne, kalau begitu ayo naik motorku. Kebetulan aku membawa helm 2." ajak Kyuhyun.

"Kyu, dia siapa?" tanya Donghae.

"Ah, dia Eunhee yang tadi kuceritakan!" ujar Kyuhyun.

"Annyeong haseyo, Eunhee imnida," Eunhee memperkenalkan dirinya.

"Donghae imnida."
"Kibum imnida."
"Ryeowook imnida."

Mereka lalu saling berkenalan dan berbincang-bincang sedikit. Setelah itu, mereka berpamitan karena sudah memiliki urusan masing-masing. Kyuhyun dan Eunhee pergi bersama, sedangkan Kibum, Donghae, dan Ryeowook pergi sendiri-sendiri.

Setelah 15 menit perjalanan, Kyuhyun dan Eunhee akhirnya sampai di gedung SBK. Sambil jalan masuk kedalam gedung, mereka mengobrol.

"Tadi itu teman-teman oppa?" tanya Eunhee.

"Ne," jawab Kyuhyun singkat.

"Mereka ganteng ya," canda Eunhee.

"Kalau aku?" Kyuhyun mulai narsis.

"Oppa ganteng juga kok," ucap Eunhee, lalu tertawa.

"Hahaha. Gamsahamnida, yeodongsaeng!" Kyuhyun mengelus kepala Eunhee.

Entah mengapa Eunhee merasa sangat nyaman ketika diperlakukan seperti itu oleh Kyuhyun. Ia seperti sudah pernah merasakan sentuhan itu sebelumnya. Eunhee sangat senang karena ia bisa memiliki teman sebaik Kyuhyun.

"Eunhee, kau bekerja dilantai berapa?" tanya Kyuhyun.

"Aku dilantai 5. Oppa?"

"Aku tepat dilantai ini, lantai 2. Ruangan kerjaku didekat sini. Aku duluan, ya." ucap Kyuhyun lalu pergi.

"Oppa, tunggu!" cegah Eunhee.

"Ye?" tanya Kyuhyun.

"Nanti malam, maukah pulang bersama lagi?" pinta Eunhee.

Kyuhyun tersenyum.

"Ne, tentu saja. Nanti kau tunggu di lobby lantai 1, ya. Annyeong haseyo!" ucap Kyuhyun, lalu pergi meninggalkan Eunhee. Sementara itu, Eunhee tersenyum penuh arti.

***

Donghae kini sudah berada dirumah sakit untuk menjenguk Eulhye. Donghae lalu berjalan menuju kamar Eulhye sambil membawa sesuatu yang disembunyikan dibelakang punggungnya. Sesampainya didepan pintu kamar Eulhye, Donghae segera mengetuk pintu dan masuk.

"Annyeong haseyo, Eulhye." sapa Donghae.

"Ne, annyeong haseyo, Donghae! Tak kusangka, kau benar-benar kemari," ucap Eulhye yang sedang berbaring diranjangnya sambil tersenyum.

"Aku kan sudah berjanji untuk menemanimu tiap aku ada waktu luang. Ohya, ini aku bawakan kamu bunga mawar." Donghae memberikan sebuket bunga mawar merah. Rupanya, itulah barang yang disembunyikan Donghae tadi.

"Mawar! Aku sangat suka mawar," Eulhye menerima bunga mawar itu dengan perasaan bahagia. Ia terus memperhatikan dan mencium bau bunga mawar itu, sampai-sampai..

"Akh!" Eulhye sedikit menjerit.

"Ada apa?" tanya Donghae sedikit panik.

"Ani, hanya tertusuk duri, tadi aku kaget, mian." ujar Eulhye.

"Bagian mana yang tertusuk duri?" tanya Donghae lagi.

Eulhye lalu memperlihatkan jari manis ditangan kanannya yang sudah mulai mengeluarkan darah. Donghae lalu membersihkan darah itu dengan saputangan putihnya. Ia lalu menempelkan plester pada jari Eulhye.

"Donghae, gamsahamnida." ucap Eulhye.

"Tak apa. Kalau masih perih, katakan saja. Ohya, apa ada yang bisa kulakukan untukmu?"

Eulhye berfikir sebentar. Ia lalu mendapat ide.

"Donghae, bisakah kau membawaku keluar rumah sakit? Maksudku, ke taman rumah sakit ini. Aku sudah lama tidak menghirup udara segar. Nanti kau bantu aku mendorong kursi roda, ya?"

"Kursi.. Roda?"

"Ne," Eulhye sedikit murung "Aku sudah harus memakai kursi roda sekarang."

"Oh, ok! Baiklah! Ayo!" Donghae lalu mengambilkan kursi roda yang terletak disudut kamar, lalu meletakkannya tepat disamping ranjang Eulhye. Eulhye lalu duduk dikursi roda, dan merekapun keluar kamar.

"Aah, segaaaar!" seru Eulhye lega setelah mereka sampai di taman rumah sakit.

Dedaunan hijau yang begitu lebat bergerak kesana kemari karena tertiup angin. Siang itu udara cukup sejuk karena angin banyak bertiup, namun cuaca tetap cerah.

"Aku selama ini hanya bisa menghirup udara didalam bangunan saja. Tapi sekarang, aku bisa menghirup udara luar. Rasanya berbeda sekali. Aku sangat menyukai suasana seperti ini! Duduk dibawah pohon lebat yang daunnya sedang bergoyang karena terkena hembusan angin, rasanya sangat segar. Tidak seperti saat didalam bangunan." Eulhye bercerita panjang lebar.

"Kalau kau senang, aku juga ikut senang." ucap Donghae.

"Mengapa bisa begitu?" tanya Eulhye.

"Karena yang namanya teman itu selalu sehati. Bila teman kita senang, maka kita juga akan senang. Bila teman kita sedih, maka kita juga akan merasa sedih." jelas Donghae.

"Jadi begitu. Yaa, aku mengerti sekarang."

"Eulhye, aku.. Bolehkah bertanya sesuatu padamu?"

"Ye?"

"Orang tuamu.. Dimana?"

Eulhye terdiam. Ia menunduk. Tak ada kata terucap dari bibirnya dalam waktu yang cukup lama. Donghae jadi merasa menyesal telah bertanya hal seperti itu padanya.

"Ah, mianhae, tak usah dijawab tak apa." ucap Donghae.

"Orang tuaku.. Sudah tak menganggapku anak lagi." Eulhye akhirnya angkat bicara.

"Mwo?" Donghae kaget.

"Sejak kecil, aku sudah sakit-sakitan dan tak pernah ada habisnya. Orang tuaku, mereka.. Awalnya sangat bersusah payah untuk mengobatiku. Mereka selalu ada disampingku. Tapi lama kelamaan, mungkin mereka bosan. Jadinya sekarang ini, aku ditinggalkan mereka dirumah sakit. Mereka mungkin masih ingin aku tetap hidup, tapi mereka sudah tidak peduli lagi padaku. Buktinya, aku ditinggal disini sendirian." Eulhye mulai menceritakan kisah hidupnya.

"Orang tuamu.. Sekarang, mereka dimana?"

"Ayahku tak lain adalah seorang professor di rumah sakit ini, sedangkan ibuku, dia adalah seorang ibu rumah tangga biasa."

"Eulhye.. Maaf.. Sudah bertanya seperti itu, aku.." belum selesai Donghae berbicara, Eulhye sudah memotongnya duluan.

"Sudahlah, biarkan saja! Donghae, bagaimana kalau kita pergi melihat ikan? Disana ada kolam ikam!" Eulhye menunjuk kesebuah tempat dimana disana memang ada sebuah kolam ikan yang cukup besar.

Donghae menyetujui permintaan Eulhye. Ia membawa Eulhye kesana. Didepan kolam ikan, Eulhye terus memandangi ikan-ikan tersebut.

"Aku sangat menyukai ikan dan laut, mereka sangat indah." ucap Eulhye.

"Aku setuju denganmu. Aku juga sangat menyukai mereka." kata Donghae.

Tiba-tiba, ada seekor burung hinggap diatas pohon yang tepat berada disamping Eulhye dan Donghae. Eulhye terus memperhatikan burung itu sampai burung itu terbang kembali.

"Donghae, aku.. Ingin seperti burung itu." ucap Eulhye.

"Kenapa?" tanya Donghae.

"Karena mereka bisa bergerak dengan bebas. Mereka bisa pergi kemanapun yang mereka mau. Mereka bisa menjelajah alam luas. Sedangkan aku? Jangankan menjelajah alam luas, keluar dari rumah sakit ini saja susahnya sudah setengah mati. Aku iri dengannya.."

Donghae memperhatikan Eulhye dengan penuh rasa prihatin dan iba. Eulhye sungguh kasihan, batin Donghae. Donghae lalu memutuskan sesuatu.

"Eulhye, kau.. Apa sekarang kau memiliki suatu keinginan?" tanya Eulhye.

"Keinginan? Tentu sangat banyak. Yang paling utama pastinya aku ingin bebas dari penyakit dan rumah sakit ini. Namun aku tahu, kemungkinannya sangat kecil. Jadi, yang paling kuinginkan sekarang adalah berjalan-jalan dikota Seoul ini." ujar Eulhye.

"Tunggu sebentar," ucap Donghae, lalu meninggalkan Donghae.

Eulhye bingung. Ia tak sempat bertanya, Donghae mau kemana? Eulhye lalu menunggu Donghae sambil terus memandang alam luar yang sudah lama tak dijumpainya. Setelah sekitar 20 menit, Donghae kembali. Donghae tampak seperti habis berlari-lari karena nafasnya tersengal-sengal.

"Donghae, kau habis darimana?" tanya Eulhye.

"Eulhye, aku.. Punya.. Kabar baik untukmu.." ucap Donghae dengan nafas yang masih belum teratur.

"Donghae, apa maksudmu? Kabar baik apa?" tanya Eulhye.

"Lusa, kau.. Boleh keluar.. Selama seharian dari rumah sakit.. Ini!" ujar Donghae.

Eulhye tampak sangat senang. Ia sama sekali tak menyangka. Ia sangat terkejut.

"Kau tak bercanda, kan? Kau serius? Bagaimana bisa?" Eulhye tak percaya.

"Sudahlah, soal itu.. Tak usah difikirkan. Sekarang lebih baik kau kembali kekamar dan fikirkan dengan baik-baik, apa yang ingin kau lakukan lusa nanti. Aku berjanji akan menemanimu." ujar Donghae yang hendak mendorong kursi roda.

"Donghae, sebelum kau mendorong kursi roda ini, bisakah kau berjongkok didepanku, sebentar saja?" pinta Eulhye.

Donghae tentu saja menyetujui. Ia lalu berjongkok didepan Eulhye sambil menatapnya. Lalu tiba-tiba, Eulhye memeluk Donghae.

"Eul.. Eulhye? Mengapa?" Donghae bingung.

Namun Eulhye tidak menjawab Donghae. Ia terus mendekap Donghae. Kemudian, terdengar suara tangisan dan Donghae merasa bajunya agak basah. Ya, Eulhye menangis. Donghaepun mengelus punggung Eulhye.

"Donghae, aku.. Sangat senang karena berkatmu aku bisa seperti dulu lagi.. Donghae.. Daedan hi gamsahamnida.. Aku sangat senang sampai-sampai seperti ini.." ucap Eulhye sambil masih terisak.

"Ne, cheonmaneyo.. Ya, aku mengerti perasaanmu. Sekarang lebih baik tenangkan dirimu dikamar, ya." kata Donghae.

Eulhye lalu melepas dekapannya dari Donghae. Merekapun pergi menuju kamar Eulhye. Dan tanpa mereka sadari, ternyata ada seseorang dari jauh sedang memperhatikan mereka...

***

"Hey! Kau ini lama sekali, sih! Hanya mengerjakan 3 lembar soal fisika saja, kok! Bagaimana sih kau ini, apa kau sudah lupa dengan pelajaranmu tahun lalu?" omel Gayoong.

"Berisik! Diamlah! Kalau kau berisiki terus, aku tidak bisa berfikir, tahu!" Ryeowook balik mengomel.

"Mwo? Jangan banyak alasan, deh! Bilang saja kalau kau tak bisa mengerjakannya!" ledek Gayoong.

"Enak saja! Heh, babo! Asal kau tahu ya, aku ini sangat jago dimata pelajaran fisika!" balas Ryeowook.

"Oh yaaaa? Seolma? So, mana buktinya? Padahal hanya 3 lembar, kalau dihitung mungkin hanya sekitar 30 soal, tapi sejak 1 jam yang lalu kau belum selesai mengerjakannya! Ah, dasar kakak kelas babo! Pokoknya, 30 menit lagi sudah harus selesai!" suruh Gayoong.

Ryeowook akhirnya terpaksa mengerjakannya dengan raut wajah kesal (selalu), sementara Gayoong malah mendengarkan lagu-lagu lewat iPod-nya.

Ryeowook kini sedang berada dirumah Gayoong karena Gayoong memberi perintah padanya, yaitu selesaikan PR Gayoong sekarang juga. Karena peran Ryeowook adalah sebagai hamba sahaya, maka Ryeowook tak bisa menolak perintah sang majikan, Gayoong.

Sekitar 20 menit kemudian...

"Selesai!" ucap Ryeowook lega.

"Sudah? Benarkah? Awas kalau sampai salah semua," Gayoong ragu pada Ryeowook.

"Ah, kau ini bisanya hanya berprasangka buruk saja! Kalau ada yang salah, nanti akan kubetulkan lagi! Masih ada tugas lain, tidak?" tanya Ryeowook.

"Hmm," Gayoong berfikir sebentar "Besok aku ada kelas tambahan disekolah. Jadi tunggu sampai aku pulang dan antarkan aku ke rumah. Ok?"

"Memangnya kau tak bisa pulang sendiri, hah?" omel Ryeowook.

"Pantaskah seorang budak membantah majikannya?" sindir Gayoong.

"Ne, besok aku akan menunggumu! Puas, hah?" Ryeowook kesal.

"Bagus. Sekarang kau pulanglah, sudah tak ada perintah lagi."

Ryeowookpun pergi dari rumah Gayoong dengan perasaan masih kesal. Sementara itu, Gayoong hanya tersenyum puas.

***

Jam 20:00 di lobby lantai 1 di kantor SBK

Kyuhyun sedang duduk disofa yang ada disana. Ia tengah menunggu Eunhee. Tak lama kemudian, Eunhee datang.

"Oppa, mianhae karna sudah menunggu lama!" ucap Eunhee.

"Tak apa. Malam ini mau makan dimana?" tanya Kyuhyun.

"Aku tahu sebuah restoran sushi yang enak didekat sini, mau kesana?" ajak Eunhee.

"Mengapa tidak? Ayo!"

Kyuhyun dan Eunhee lalu pergi menaiki motor. Eunhee menunjukkan arah menuju restoran itu. 10 menit kemudian, mereka sampai. Setelah memesan makanan dan duduk, mereka berbincang sambil menunggu pesanan datang.

"Oppa, hari ini bagaimana pekerjaannya? Berjalan lancar atau tidak?" tanya Eunhee.

"Ne, tak ada masalah sama sekali. Kau sendiri?"

"Aku juga tidak. Ohya oppa, terima kasih karena 2 hari ini sudah mau menemaniku. Padahal kita baru kenal, tapi rasanya sudah seperti bertahun-tahun saling mengenal. Entah kenapa, wajah oppa tak asing lagi bagiku. Hahaha." ucap Eunhee.

"Seolma?" Kyuhyun tersenyum.

Dan saat itu, Kyuhyun memperhatikan senyum yang tersungging dibibir Eunhee. Kyuhyun merasa aneh. Ia merasa sudah pernah melihat senyum itu sebelumnya, bahkan dulu sangat sering. Tapi siapa? Otak Kyuhyun kini malah dipenuhi oleh tanda tanya. Kyuhyun tak bisa ingat, senyum siapakah itu.

"Oppa? Kenapa melamun?" tanya Eunhee.

"Ah, ani," jawab Kyuhyun.

"Oppa capek?" tanya Eunhee "Kalau capek pulang saja, tak apa. Aku tak ingin memaksa oppa."

"Ani, tak apa! Aku hanya seperti.. Pernah melihat senyumanmu.. Dan sepertinya itu sangat familiar bagiku! Tapi.. Aku tak ingat apa-apa sama sekali. Sudahlah, lupakan saja, mungkin hanya deja vu!" jelas Kyuhyun.

"Hmm, ok." ucap Eunhee. Mereka lalu mengoborol lagi dengan topik berbeda.

Kyuhyun masih sangat penasaran. Senyum milik siapa itu? Ia yakin ia mengenal senyuman itu, karena ia merasa senyuman itu sangat familiar dimatanya, tapi.. Ia tak ingat apa-apa!

*THIS IS THE END OF PART 3*


Senyum milik siapakah itu?
Siapa yang tengah memperhatikan Donghae dan Eulhye?
Bagaimana kelanjutan kisah sang budak dan majikannya?
Tunggu chapter berikutnya!

0 komentar:

Posting Komentar