author : vNez chullie
“Kanpei~” Teriak mereka semua dengan mengangkat gelas beer. Hari ini adalah hari ulang tahun sahabat Yura dari kecil Lee Donghae, gadis itu dan beberapa teman kampus Donghae yang tergabung dalam Gang yang diberi nama Club no.1 Leeteuk, Heechul, Hankyung, Kangin, Eunhyuk, dan Kibum pergi ke tempat karaoke. Walaupun omma sempat melarang Yura pergi, berkat usaha Leeteuk dan Donghae merayu sang omma, akhirnya Yura berhasil mendapatkan izin tersebut. Sekitar pukul sebelas malam mereka keluar dari gedung karaoke itu. Karena Eunhyuk tidak mabuk jadilah dia yang mengendari mobil Van putih itu.
~Sekilas tentang Club no.1~
Mereka adalah sekumpulan cowok-cowok keren di kampusnya. Mereka adalah :
LEETEUK (hyung Donghae), dia sangat dewasa dan pintar menyimpan rahasia.
HEECHUL, anggota yang sangat pendiam, sangat susah kalau ingin dekat dengan dia.
HANKYUNG, pria yang sangat pintar tentang sejarah Korea
KANGIN, pria yang anti terhadap alcohol, tapi kalau sudah meminumnya dia tidak bisa berhenti. Dia juga termasuk pria yang pendiam, sama seperti Leeteuk dia juga bisa menyimpan rahasia semua anggota.
SHINDONG, punya badan seperti model, perutnya six pack.
YESUNG, sangat perhatian terhadap deongsaeng-deongsaengnya, dia juga sangat tertutup.
mereka satu angkatan.
Sedangkan :
SUNGMIN, sangat tidak suka dengan warna pink, karena menurutnya terlalu feminim.
RYEOWOOK, hanya suka makan, dia adalah anggota yang mempunyai mulut bocor sama sekali tidak bisa menjaga rahasia
KIBUM, anggota yang jarang senyum, sering kali di bilang sombong. Tapi kalau sudah bicara semua rahasia member dia beberkan tanpa batas.
DONGHAE, dia mempunyai kepribadian aneh, mood-nya bisa berubah setiap saat.
SIWON, sangat benci dengan keringat karena itu dia tidak suka olah raga, badannya sangat gendut.
EUNHYUK, selalu tampil wangi, sangat benci dengan orang yang bau.
adalah mahasiswa baru dikampus dan baru bergabung dengan Club no.1 enam bulan lalu.
~Back to topic~
Sesampainya dirumah dia mendapati omma dan adiknya sudah tertidur pulas, yah mereka memang tinggal bertiga dirumah yang tidak besar itu. Karena appa mereka sudah meninggal sejak Yura masuk SMP, dan sekarang Yura kelas 3 SMA. Appa meninggal karena penyakit kanker darah, selama 2 tahun appa berjuang melawan penyakit tersebut tapi pada akhirnya appa tidak sanggup untuk bertahan.
Yura menuju kamarnya yang terletak di lantai 2, kamar yang serba pink. Dia memang sangat menyukai warna itu, selesai mandi dia membuka laci di sebelah tempat tidurnya. Diraihlah buku lusuh bersampul pink, buku pemberian Donghae 1 tahun lalu, namun buku itu terus berada didalam laci karena dia tidak terlalu suka untuk menulis kesehariannya dalam sebuah buku, Dia baru mengeluarkan kembali 5 bulan lalu sejak Dia di vonis mengidap penyakit yang sama seperti appa-nya. Dengan buku inilah Yura menceritakan kesehariannya, saat ia pergi ke rumah sakit untuk check up atau saat ia chemotherapy, saat-saat senang dan saat sedih, saat dia berjuang melawan penyakit mematikan itu, saat mendapat dorongan dari keluarga dan Super junior, semua dia tuliskan dalam Diary-nya itu.
Dear dairy, sekarang sudah hampir jam 12 malam dan aku baru pulang dari tempat karaoke bersama teman-teman ku. Kamu tahu apa yang terjadi? Heechul dan Kangin sangat berisik kalau mabuk, padahal kalau tidak mabuk mereka jarang ngomong kecuali hal yang dianggap penting saja. Kalau mengingatnya aku ingin tertawa.
Hari ini pun Donghae sangat baik padaku, selain omma dan adikku dia juga termasuk orang yang membuatku untuk terus berjuang hidup. Aku ingin sekali bisa berada disisi mereka, aku senang Donghae dan para member masih mengingatku sebagai teman. Dairy besok aku akan check up untuk mengetahui perkembangan kesehatanku, aku harap Dokter sudah menemukan donor yang cocok untuk ku, doakan aku dairy. Sekarang aku akan tidur karena besok aku harus masuk sekolah.
Selesai menulis ia pun menaruh kembali buku tersebut kedalam laci dan mematikan lampu kemudian tidur. “Aku harap hari esok masih ada untuk ku.” Sebuah kalimat yang selalu diucapkan sebelum dia menutup mata, karena dia sangat takut kalau saat matanya tertutup, dia tidak bisa membukanya kembali.
***
Hari ini Yura harus melakukan check up, sebenarnya Yura sangat takut pergi sendirian ke rumah sakit, tapi dia juga tidak mungkin meminta omma yang sedang sibuk untuk menemaninya ke Rumah Sakit, dia merasa kondisinya semakin hari semakin. Hari ini di paha kirinya terdapat 5 memar dan bercak-bercak merah pada pahanya. Dia berharap dokter Lee memberikan kabar baik untuknya.
Setelah bell pulang berbunyi ia langsung melesat keluar kelas dan menuju halte bus. Selama di bus dia tidak bisa duduk tenang, tangannya berkeringat karena terlalu tegang untuk berhadapan dengan dokter Lee. 20 menit kemudian Yura sampai di rumah sakit tersebut. Dia memasuki gedung tersebut, menuju ke lift dan menekan tombol nomer 5 dimana ruangan dokter Lee berada. Saat pintu lift terbuka ia segera keluar dan menuju tempat pendaftaran, setelah melakukan pendaftaran dia menunggu sampai namanya di sebutkan suster.
“Nona Kim Yura.” Ucap seorang suster yang berumur sekitar 40 tahun.
“Ne~”
“Ikut saya.” Yura pun mengikuti langkah suster itu dari belakang.
“Silahkan masuk.” Lanjut sang suster seraya membukakan pintu.
“Gamsahamnida.” Ucap Yura, dan mereka pun masuk kedalam.
“Annyeonghaseyo, Lee seongsaengnim.” Sapa Yura sambil membungkukan badannya.
“Annyeonghaseyo, Yura ssi. Selahkan duduk.” Ucap dokter Lee.
“Bagaimana kondisimu?” Lanjutnya.
“Hari ini di paha saya ada 5 memar, dan banyak bercak merah.”
“A~ baiklah coba saya periksa dulu.”
Yura pun berbaring di kasur berseprei putih tersebut, dokter mulai memeriksanya.
“Yura ssi, kondisi kamu semakin parah. Kalau waktu itu saya bilang kamu bisa hidup lebih lama, tapi kalau sekarang umur kamu tidak lebih dari 4 bulan, dan saya belum menemukan donor untukmu. Andai saja ada donor yang pas mungkin kamu bisa bertahan hidup.” Ucap dokter Lee panjang lebar. Mendengar ucapan dokter Lee tersebut, Yura merasa ada jutaan volt listrik yang menyetrum tubuhnya hingga menjadi kaku. Dia tidak bisa berkata-kata, hanya tetesan air mata yang jatuh ke wajah pucatnya.
“Chongmal?” hanya kata itu yang bisa ia lontarkan dengan suara parau.
“Ne. Jwaesonghamnida, saya tau kamu pasti sangat sedih. Tapi selama donor itu belum ada kami tidak dapat membantumu lebih, sekarang yang bisa kamu lakukan adalah chemotherapy secara rutin, dan kamu sudah tau kan apa resiko dari chemo ini kan?” Yura hanya bisa menganggukan kepalanya pelan.
“Pertama kamu akan mual-mual, setelah itu rambutmu semakin lama akan rontok, dan napsu makan semakin berkurang. Dokter berharap saat kamu melakukan chemo, kita mendapatkan seorang pendonor, jadi kamu jangan sampai putus semangat. Dokter yakin omma, adikmu, dan pria yang tempo hari menemani kamu juga mengharapkan hal yang sama seperti dokter.” Ucap dokter Lee, dan suster itu membantu Yura menghapus air matanya.
“Gamsahamnida seongsaengnim.” Ucap Yura dengan terisak.
“Mulai minggu depan kamu sudah bisa melakukan chemo, nanti suster Han akan memberikan jadwalnya.”
“Ne seongsaengnim, gamsahamnida.” Ucap Yura seraya membungkukan badan, lalu meninggalkan ruangan itu. tanpa menunggu lama suster Han pun kembali dengan selembar kertas, dan ia pun memberikan ke Yura.
“Gamsahamnida.” Ucap Yura dan mengambil kertas itu, dan melihat barisan-barisan jadwalnya chemo. Yura pun meninggalkan rumah sakit itu, sepanjang jalan di dalam bus Yura hanya bisa menangis, mengingat ucapan dokter Lee tadi. Tiba-tiba hp-nya berdering adanya sebuah pesan baru, Yura membuka pesan itu ternyata dari Donghae.
✉ Yura, hari kamu ke rumah sakit kan? Apa kata dokter? Kamu mendapatkan donorkan? Aku yakin pasti kamu sudah mendapatkannya. Yura Hwaiting (^_^)v
Membaca isi pesan itu membuat Yura semakin menangis, ia tidak mebalas sms tersebut. Saat bus berhenti di halte dekat rumahnya ia tidak langsung kembali, melainkan menuju taman di dekat halte tersebut. Dia duduk di sebuah ayunan, ayunan yang selalu menjadi tempat duduknya bersama appa kalau dia sedang sedih. Sekarang ayunan itu hanya dia saja yang mendudukinya, dia terus memandangi pesan dari Donghae dan sesekali melihat kearah kertas pemberian suster Han tadi.
“Apa yang aku bisa kalau dokter belum mendapatkan donor untuk ku? Bagaimana aku menghadapi omma dan Jung hee? Mereka pasti akan semakin sedih.” Ucap Yura pada dirinya sendiri. Yura akhirnya memutuskan untuk mebalas sms dari Donghae.
✉ Mianhae baru balas, aku baru pulang dari rumah sakit. Ne dokter bilang sudah mendapatkan donor untukku, tapi aku belum tau kapan akan melakukan operasi untuk itu. gomawo kamu selalu mendukungku.
✉ Gwaenchana, apa aku bilang kamu pasti akan mendapatkan donor. Aku senang mendengarnya, aku selalu mengharapkan yang terbaik untukmu. Aku harap kamu bisa sembuh dan aku yakin kamu pasti sembuh.
✉ Kenapa kamu bisa seyakin itu kalau aku akan sembuh?
✉ Aku yakin karena kamu sudah menemukan seorang pendonor, aku bisa memilikai fikiran positif juga berkat kamu, jadi kamu juga harus selalu berfikiran yang positif juga. Yura mian, aku harus kembali berkerja. Yura Hwaiting, semua member mendukungmu. Saranghae~ \(^_^)/
✉ Gomawoyo Donghae Oppa, hwaiting. ^_^
Selain kuliah Donghae juga bekerja part time di sebuah toko roti, dia sangat suka mencium aroma roti yang baru keluar dari oven, katanya seperti mendapatkan kebahagian baru. Itulah Donghae, pria paling aneh yang aku kenal.
~To be continue~
~Sekilas tentang Club no.1~
Mereka adalah sekumpulan cowok-cowok keren di kampusnya. Mereka adalah :
LEETEUK (hyung Donghae), dia sangat dewasa dan pintar menyimpan rahasia.
HEECHUL, anggota yang sangat pendiam, sangat susah kalau ingin dekat dengan dia.
HANKYUNG, pria yang sangat pintar tentang sejarah Korea
KANGIN, pria yang anti terhadap alcohol, tapi kalau sudah meminumnya dia tidak bisa berhenti. Dia juga termasuk pria yang pendiam, sama seperti Leeteuk dia juga bisa menyimpan rahasia semua anggota.
SHINDONG, punya badan seperti model, perutnya six pack.
YESUNG, sangat perhatian terhadap deongsaeng-deongsaengnya, dia juga sangat tertutup.
mereka satu angkatan.
Sedangkan :
SUNGMIN, sangat tidak suka dengan warna pink, karena menurutnya terlalu feminim.
RYEOWOOK, hanya suka makan, dia adalah anggota yang mempunyai mulut bocor sama sekali tidak bisa menjaga rahasia
KIBUM, anggota yang jarang senyum, sering kali di bilang sombong. Tapi kalau sudah bicara semua rahasia member dia beberkan tanpa batas.
DONGHAE, dia mempunyai kepribadian aneh, mood-nya bisa berubah setiap saat.
SIWON, sangat benci dengan keringat karena itu dia tidak suka olah raga, badannya sangat gendut.
EUNHYUK, selalu tampil wangi, sangat benci dengan orang yang bau.
adalah mahasiswa baru dikampus dan baru bergabung dengan Club no.1 enam bulan lalu.
~Back to topic~
Sesampainya dirumah dia mendapati omma dan adiknya sudah tertidur pulas, yah mereka memang tinggal bertiga dirumah yang tidak besar itu. Karena appa mereka sudah meninggal sejak Yura masuk SMP, dan sekarang Yura kelas 3 SMA. Appa meninggal karena penyakit kanker darah, selama 2 tahun appa berjuang melawan penyakit tersebut tapi pada akhirnya appa tidak sanggup untuk bertahan.
Yura menuju kamarnya yang terletak di lantai 2, kamar yang serba pink. Dia memang sangat menyukai warna itu, selesai mandi dia membuka laci di sebelah tempat tidurnya. Diraihlah buku lusuh bersampul pink, buku pemberian Donghae 1 tahun lalu, namun buku itu terus berada didalam laci karena dia tidak terlalu suka untuk menulis kesehariannya dalam sebuah buku, Dia baru mengeluarkan kembali 5 bulan lalu sejak Dia di vonis mengidap penyakit yang sama seperti appa-nya. Dengan buku inilah Yura menceritakan kesehariannya, saat ia pergi ke rumah sakit untuk check up atau saat ia chemotherapy, saat-saat senang dan saat sedih, saat dia berjuang melawan penyakit mematikan itu, saat mendapat dorongan dari keluarga dan Super junior, semua dia tuliskan dalam Diary-nya itu.
Dear dairy, sekarang sudah hampir jam 12 malam dan aku baru pulang dari tempat karaoke bersama teman-teman ku. Kamu tahu apa yang terjadi? Heechul dan Kangin sangat berisik kalau mabuk, padahal kalau tidak mabuk mereka jarang ngomong kecuali hal yang dianggap penting saja. Kalau mengingatnya aku ingin tertawa.
Hari ini pun Donghae sangat baik padaku, selain omma dan adikku dia juga termasuk orang yang membuatku untuk terus berjuang hidup. Aku ingin sekali bisa berada disisi mereka, aku senang Donghae dan para member masih mengingatku sebagai teman. Dairy besok aku akan check up untuk mengetahui perkembangan kesehatanku, aku harap Dokter sudah menemukan donor yang cocok untuk ku, doakan aku dairy. Sekarang aku akan tidur karena besok aku harus masuk sekolah.
Selesai menulis ia pun menaruh kembali buku tersebut kedalam laci dan mematikan lampu kemudian tidur. “Aku harap hari esok masih ada untuk ku.” Sebuah kalimat yang selalu diucapkan sebelum dia menutup mata, karena dia sangat takut kalau saat matanya tertutup, dia tidak bisa membukanya kembali.
***
Hari ini Yura harus melakukan check up, sebenarnya Yura sangat takut pergi sendirian ke rumah sakit, tapi dia juga tidak mungkin meminta omma yang sedang sibuk untuk menemaninya ke Rumah Sakit, dia merasa kondisinya semakin hari semakin. Hari ini di paha kirinya terdapat 5 memar dan bercak-bercak merah pada pahanya. Dia berharap dokter Lee memberikan kabar baik untuknya.
Setelah bell pulang berbunyi ia langsung melesat keluar kelas dan menuju halte bus. Selama di bus dia tidak bisa duduk tenang, tangannya berkeringat karena terlalu tegang untuk berhadapan dengan dokter Lee. 20 menit kemudian Yura sampai di rumah sakit tersebut. Dia memasuki gedung tersebut, menuju ke lift dan menekan tombol nomer 5 dimana ruangan dokter Lee berada. Saat pintu lift terbuka ia segera keluar dan menuju tempat pendaftaran, setelah melakukan pendaftaran dia menunggu sampai namanya di sebutkan suster.
“Nona Kim Yura.” Ucap seorang suster yang berumur sekitar 40 tahun.
“Ne~”
“Ikut saya.” Yura pun mengikuti langkah suster itu dari belakang.
“Silahkan masuk.” Lanjut sang suster seraya membukakan pintu.
“Gamsahamnida.” Ucap Yura, dan mereka pun masuk kedalam.
“Annyeonghaseyo, Lee seongsaengnim.” Sapa Yura sambil membungkukan badannya.
“Annyeonghaseyo, Yura ssi. Selahkan duduk.” Ucap dokter Lee.
“Bagaimana kondisimu?” Lanjutnya.
“Hari ini di paha saya ada 5 memar, dan banyak bercak merah.”
“A~ baiklah coba saya periksa dulu.”
Yura pun berbaring di kasur berseprei putih tersebut, dokter mulai memeriksanya.
“Yura ssi, kondisi kamu semakin parah. Kalau waktu itu saya bilang kamu bisa hidup lebih lama, tapi kalau sekarang umur kamu tidak lebih dari 4 bulan, dan saya belum menemukan donor untukmu. Andai saja ada donor yang pas mungkin kamu bisa bertahan hidup.” Ucap dokter Lee panjang lebar. Mendengar ucapan dokter Lee tersebut, Yura merasa ada jutaan volt listrik yang menyetrum tubuhnya hingga menjadi kaku. Dia tidak bisa berkata-kata, hanya tetesan air mata yang jatuh ke wajah pucatnya.
“Chongmal?” hanya kata itu yang bisa ia lontarkan dengan suara parau.
“Ne. Jwaesonghamnida, saya tau kamu pasti sangat sedih. Tapi selama donor itu belum ada kami tidak dapat membantumu lebih, sekarang yang bisa kamu lakukan adalah chemotherapy secara rutin, dan kamu sudah tau kan apa resiko dari chemo ini kan?” Yura hanya bisa menganggukan kepalanya pelan.
“Pertama kamu akan mual-mual, setelah itu rambutmu semakin lama akan rontok, dan napsu makan semakin berkurang. Dokter berharap saat kamu melakukan chemo, kita mendapatkan seorang pendonor, jadi kamu jangan sampai putus semangat. Dokter yakin omma, adikmu, dan pria yang tempo hari menemani kamu juga mengharapkan hal yang sama seperti dokter.” Ucap dokter Lee, dan suster itu membantu Yura menghapus air matanya.
“Gamsahamnida seongsaengnim.” Ucap Yura dengan terisak.
“Mulai minggu depan kamu sudah bisa melakukan chemo, nanti suster Han akan memberikan jadwalnya.”
“Ne seongsaengnim, gamsahamnida.” Ucap Yura seraya membungkukan badan, lalu meninggalkan ruangan itu. tanpa menunggu lama suster Han pun kembali dengan selembar kertas, dan ia pun memberikan ke Yura.
“Gamsahamnida.” Ucap Yura dan mengambil kertas itu, dan melihat barisan-barisan jadwalnya chemo. Yura pun meninggalkan rumah sakit itu, sepanjang jalan di dalam bus Yura hanya bisa menangis, mengingat ucapan dokter Lee tadi. Tiba-tiba hp-nya berdering adanya sebuah pesan baru, Yura membuka pesan itu ternyata dari Donghae.
✉ Yura, hari kamu ke rumah sakit kan? Apa kata dokter? Kamu mendapatkan donorkan? Aku yakin pasti kamu sudah mendapatkannya. Yura Hwaiting (^_^)v
Membaca isi pesan itu membuat Yura semakin menangis, ia tidak mebalas sms tersebut. Saat bus berhenti di halte dekat rumahnya ia tidak langsung kembali, melainkan menuju taman di dekat halte tersebut. Dia duduk di sebuah ayunan, ayunan yang selalu menjadi tempat duduknya bersama appa kalau dia sedang sedih. Sekarang ayunan itu hanya dia saja yang mendudukinya, dia terus memandangi pesan dari Donghae dan sesekali melihat kearah kertas pemberian suster Han tadi.
“Apa yang aku bisa kalau dokter belum mendapatkan donor untuk ku? Bagaimana aku menghadapi omma dan Jung hee? Mereka pasti akan semakin sedih.” Ucap Yura pada dirinya sendiri. Yura akhirnya memutuskan untuk mebalas sms dari Donghae.
✉ Mianhae baru balas, aku baru pulang dari rumah sakit. Ne dokter bilang sudah mendapatkan donor untukku, tapi aku belum tau kapan akan melakukan operasi untuk itu. gomawo kamu selalu mendukungku.
✉ Gwaenchana, apa aku bilang kamu pasti akan mendapatkan donor. Aku senang mendengarnya, aku selalu mengharapkan yang terbaik untukmu. Aku harap kamu bisa sembuh dan aku yakin kamu pasti sembuh.
✉ Kenapa kamu bisa seyakin itu kalau aku akan sembuh?
✉ Aku yakin karena kamu sudah menemukan seorang pendonor, aku bisa memilikai fikiran positif juga berkat kamu, jadi kamu juga harus selalu berfikiran yang positif juga. Yura mian, aku harus kembali berkerja. Yura Hwaiting, semua member mendukungmu. Saranghae~ \(^_^)/
✉ Gomawoyo Donghae Oppa, hwaiting. ^_^
Selain kuliah Donghae juga bekerja part time di sebuah toko roti, dia sangat suka mencium aroma roti yang baru keluar dari oven, katanya seperti mendapatkan kebahagian baru. Itulah Donghae, pria paling aneh yang aku kenal.
~To be continue~

0 komentar:
Posting Komentar