author : asha nyonya tuki
*soo yun POV*
Haejin dan aku sedang duduk di depan tivi sambil memegang sebungkus makanan ringan di tangan kami masing-masing.
“OMO~~ YESUNG-ah.. betapa gantengnyaa dirimuu...” jerit Haejin. Aku tersenyum kecil.
“AISH~ AKU MAU PELUUUKK kamuu YESUNG-ah..!!” jeritnya lagi. lagi-lagi aku hanya bisa tersenyum.
“Eonni masih belom suka juga sama Yesung-ah?” tanya Haejin saat saluran tivi sedang iklan. Aku menggeleng.
“Yesung-ah itu penyanyi paling ganteeeng di Korea lho. Udah begituu dia gak Cuma modal tampang doang, Eon. Dia juga punya suara emas. Eonni dengar kan tadi gimana suaranya? Huuuaah... merinding...” ucap Haejin panjang.
Aku mengangguk-angguk. Haejin semakin antusias mendengar reaksiku.
“tau gak Eonni, apa berita terbaru Yesung-ah?” tanya Haejin. Aku menggeleng.
“YESUNG-ah akan tampil di acara malam amal kampus kita! OMONI~~ bisa gilaaa kalau aku membayangkannyaaa...” ujarnya lagi. aku tertawa kecil.
“Ohya? Wah keren!” sahutku.
“yah, udah selesei acara tivinya. Yaudah, aku belajar dulu deh Eon. Dah Eonni..” Haejin beranjak ke kamarnya dan meninggalkanku.
Aku masuk ke kamarku setelah mematikan tivi. Kubuka pintu lemari kamarku. Ah, rasanya tidak adil bagi Haejin.
Ohya, aku Soo Yun. Mahasiswa jurusan ekonomi manajemen semester akhir. Haejin adalah adikku satu-satunya. Dia juga sudah kuliah jurusan bahasa inggris semester awal. Setiap hari selasa, Haejin pasti sudah jejeritan begitu melihat Yesung, penyanyi favoritnya tampil secara berkala di salah satu realiti show.
Haejin adalah gadis yg sangat ceria. Setiap saat ia berusaha membuatku senang karena kelemahanku. Kaki kananku lumpuh, sehingga aku terpaksa mengenakan kursi roda atau kayu papah. Tapi Haejin selalu ada setiap aku membutuhkannya. Itu alasan kenapa aku hanya diam setiap ia bercerita soal Yesung-ah.
Semoga dia tidak pernah tahu kalau aku sudah lebih dulu menyukai Yesung sebelum ia setenar sekarang. Semoga Haejin tidak pernah tahu.
*author POV*
Esok harinya—
Haejin mengangkat piring bekas sarapan kami. Soo Yun menahan tangan Haejin.
“bolehkah aku saja yg mencuci piring? Kau pasti lelah..” pintanya.
Haejin tertawa, “ah gwaenchanayo Eonni. Sudah, Eonni duduk saja. Cuma lima menit kok, setelah itu kita langsung ke kampus. Oke?”
Soo Yun hanya tersenyum kecut saat Haejin menolak permintaannya.
Setelah mencuci piring, Haejin langsung mendorong kursiroda Soo Yun dan mengunci apartemen. Mereka menuju ke halte bus dekat apartemen.
Bus yg ditunggu datang, Haejin membantu Soo Yun berdiri dan memapahnya masuk ke bus. Bus terlihat ramai, Haejin menyuruh Soo Yun berpegangan di salah satu kursi sementara ia melipat kursi roda yg masih ada di luar bis.
Seseorang menyenggol Soo Yun keras, karena kaki Soo Yun timpang, jelas ia kehilangan keseimbangan. Ia jatuh.
“AAH~~” rintihnya.
Haejin yg sudah berada di dalam bis terlihat panik. Ia langsung membantu kakaknya berdiri.
“Hei kau! Apa yang kau lakukan pada kakakku!” teriak Haejin pada orang yg tadi menyenggol Soo Yun. Orang itu hanya diam, menutupi wajahnya dengan topi dan jaketnya yg tebal.
“sudahlah, Haejin. Dia tidak sengaja.” Ucap Soo Yun lirih.
“tidak bisa begitu, Eonni. Harusnya dia minta maaf! Tidak bisa seenaknya seperti itu !!” Haejin masih emosi. Soo Yun mengelus tangan adiknya supaya emosinya mereda.
Kampus—
Haejin berlari saat ia tahu bahwa ia terlambat sepuluh menit untuk ke kelas kakaknya, lima menit lagi Soo Yun ganti mata kuliah. Dan mata kuliah itu ada di lantai tiga.
Haejin cemas saat ia tidak menemukan kakaknya di kelasnya. Haejin menanyai semua orang yg ia lewati, “kau lihat Soo Yun? Gadis yg memakai kursi roda?”
Dan semua menjawab, “tidak.”
Haejin bingung, akhirnya ia naik tangga. Betapa kagetnya ia mendapati kakaknya sedang terseok-seok di anak tangga kelima. Haejin langsung menghampiri kakaknya.
“Eonni~! Jeongmal mianhamnida. Mianhamnida..” seru Haejin merasa bersalah.
Soo Yun tersenyum, “gwaenchanayo. Aku kan tidak bisa harus terus bergantung padamu. Kapan aku bisa mandiri kalau kau terus membantuku, Haejin?”
Haejin menggeleng, “tapi aku tidak mau melihatmu seperti ini Eonni.”
Soo Yun memeluk adiknya saat ia sudah duduk kembali di kursi rodanya, “aku sudah terlalu sering merepotkanmu. Aku tidak mau menjadi bebanmu, Haejin.”
Haejin memukul kepala kakaknya pelan, “hei, kita itu diciptakan untuk saling merepotkan. Waktu aku kecil, pasti aku juga jadi bebanmu kan? sudahlah, anggap saja aku membayar semuanya.”
Soo Yun tersenyum, “tapi kalau kau terus mengurusiku, kau tidak akan punya waktu untuk dirimu sendiri.”
“maksud Eonni?” Haejin bingung.
“Kyuhyun. Kau dekat dengannya kan?” selidik Soo Yun.
“astagaa.. dia kan ketua himpunan mahasiswa, Eonni. Hanya sekedar bertanya soal Yesung-ah.” Kata Haejin nyengir.
Tiba-tiba seseorang berjaket tebal berjalan terburu-buru dan menabrak kursi roda Soo Yun, hingga Soo Yun terlempar ke bawah.
GUBRAK~!
Haejin terperangah. Cepat-cepat ia membantu kakaknya yg tengah merintih agar kembali di kursi rodanya. Haejin mencegat orang itu.
“Haejin, biarkan saja..” ucap Soo Yun.
Haejin tidak menghiraukan ucapan Soo Yun. Ia mencengkeram lengan orang itu.
“BERANINYA kau menabrak kakakku~! Minta maaf sekarang juga!” perintah Haejin.
“ani. Aku tidak sengaja. Salah sendiri berdiri di tengah tangga.” Balas orang itu. Haejin merasa familiar dg suaranya.
“HEH BODOH~! kau tidak lihat kaki kakakku berdarah gara-gara kau!! Kalau kau tidak mau minta maaf sekarang, akan kupatahkan lehermu!” ancam Haejin yg memang sudah sering menjuarai kejuaraan taekwondo.
“sudahlah Haejin. Dia itu tidak sengaja lagi. lagipula mungkin ia terburu-buru di kejar sesuatu. Gwaenchanayo.” Ucap Soo Yun.
“TIDAK BISA. Aku tidak mau kau diperlakukan seperti itu Eonni!” Haejin marah.
Orang itu membuka topinya, “mianhamnida.”
Haejin kaget ternyata orang yg dibentak-bentaknya dari tadi adalah Yesung.
Haejin melepas cengkeramannya. Ia lemas. Soo Yun menunduk pasrah.
“Eonni, jangan katakan kau sudah tau bahwa dia Yesung. Maka itu kau menyuruhku membiarkannya. Karena sebelum ini, kau tidak pernah berucap setiap kali aku memarahi orang yg mendorong atau menabrakmu. Eonni, jangan katakan!”
Soo Yun diam. Yesung memandang Haejin dan Soo Yun bergantian.
“mianhamnida, Haejin. Aku memang sudah tau kalau dia Yesung.”
Haejin beralih pada Yesung. “HEH, dengar kau YESUNG-ah! Tau apa hal paling bodoh yg pernah ku lakukan?”
Yesung menggeleng dalam diam.
“hal yg paling bodoh dalam hidupku adalah, aku PERNAH memuja-muja KAU! Ternyata kau tak lebih dari seonggok daging tak berperasaan yg TIDAK SOPAN~! Aku tidak akan pernah memujamu lagi, aku tidak akan menyanyikan lagumu lagi! CAMKAN itu!”
Yesung terperangah, “tapi aku kan tidak sengaja menabrak kakakmu..”
Haejin mendengus, “lalu kenapa kau harus menunggu ancamanku untuk meminta maaf? Harusnya sudah kupatahkan lehermu dari awal aku melihatmu di bis!”
Soo Yun menarik tangan Haejin, “sudahlah. sudah. Yesung-ah, mianhamnida. Ayo, Haejin aku sudah terlambat masuk kelas..”
Yesung menatap wajah Soo Yun penuh rasa terimakasih.
“Untuk apa kita meminta maaf padanya! Sekarang aku menyesal sudah meminta Kyuhyun mengundangmu dalam acara kampus!”
Haejin mendorong kursi roda Soo Yun menaiki tangga.
“lho, Haejin. Kau sudah bertemu Yesung secara tidak sengaja rupanya. Wah, pasti kau senang sekali. Padahal tadi di lantai dua, banyak sekali gadis yg menjerit-jerit padaku ingin melihat Yesung-ah,” ucap Kyuhyun yg tiba-tiba turun dari lantai atas.
“SENANG SEKALI~! Sampai aku muak melihatnya. Suruh semua gadis itu diam, karena mereka menjeritkan nama orang paling BODOH di dunia.” Ucap Haejin ketus.
Kyuhyun heran. Sepengetahuannya, Haejin sangat memuja Yesung. Kenapa begitu melihat secara langsung Haejin malah seperti ini.
Sabtu malam—
Haejin masih mengenakan tanktop dan celana pendek kesukaannya saat Soo Yun bertanya, “kau tidak ke kampus?”
Haejin mendengus, “untuk apa? Melihat orang bodoh sedang bernyanyi? TIDAK.”
Soo Yun diam. “jeongmal mianhaeyo, Haejin.”
Haejin yg sedang membaca komik menoleh, “waeyo?”
“tidak mengatakan padamu kalau dia Yesung.” Kata Soo Yun.
“gwaenchanayo.” Ucap Haejin.
Soo Yun menghela napas, “aku tidak ingin kau kehilangan idolamu. Itu alasan kenapa aku tidak memberitahumi. Aku takut kau kecewa padanya.”
Haejin menutup komiknya, “untuk apa kau lakukan itu?”
Soo Yun memandang adiknya, “karena yg aku tahu, itu satu-satunya hal yg bisa kulakukan untuk membuatmu selalu terlihat ceria. Aku tidak mau melihatmu sedih.”
Haejin tertawa. “kau tidak perlu melakukan apapun untukku Eonni..”
Tiba-tiba ada suara ponsel berbunyi. Itu ponsel Soo Yun, Haejin berdiri dari duduknya dan menghentikan kakaknya yg akan memutar kursi rodanya.
“aku saja yg ambilkan. Kau letakkan dimana ponselmu?”
“di dekat lemari. Kamsahamnida.” Jawab Soo Yun.
Haejin masuk kamar Soo Yun. Dan ia sangat ama terkejut dg apa yg dilihatnya. Airmatanya hampir menetes.
Haejin memberikan ponselnya pada Soo Yun. “ayo ke kampus. Kau tidak ganti pakaian? Cepat.”
Soo Yun bingung. “waeyo? Katamu kau tidak mau melihat orang bodoh?”
Haejin, “sudah jangan protes. Cepat pakai gaun yg dibelikan Eomma bulan lalu. oke?”
Soo Yun bingung, tapi ia menuruti kata-kata adiknya.
Tak lama kemudian Haejin mengetuk pintu kamarnya, “sudah selesai, belum?”
Soo Yun keluar dari kamarnya, gaun helterneck warna pastel terlihat sangat indah dan anggun membalut tubuhnya.
“OMO~ kau cantik sekali! Tunggu sebentar!” Haejin masuk ke kamarnya lagi. saat ia kembali ia sudah membawa beberapa aksesoris warna senada.
“pakai. Sudah kubilang, beli lah aksesori. Masa kau akan pinjam punyaku terus kalau kau kencan?”
Soo Yun tertawa, “kencan dengan siapa? mana ada cowok yg mau dengan gadis lumpuh?”
Haejin menepuk kepala kakaknya, “PABO~ pikiranmu dangkal sekali.”
Kampus—
Soo Yun dan Haejin datang sepuluh menit sebelum acara selesai. Kyuhyun datang menghampiri Haejin.
“berubah pikiran?” goda Kyuhyun.
“hei, jangan meledekku. Kupatahkan lehermu,” ancam Haejin.
Kyuhyun ngakak, “ahahahaha... kau tidak akan mematahkan leherku. Karena malam ini Yesung akan melakukan pengakuan dan acara ini diliput banyak media. Aku sangat berterimakasih pada Yesung, karena kita dapat banyak sekali uang untuk disumbangkan.”
Haejin dan Soo Yun mengangkat alis, “pengakuan apaan? pengakuan dosa?”
Kyuhyun tertawa lagi. “ya jelas bukaaan, pabo~ sudah liat saja.”
Kyuhyun mengajak Haejin dan Soo Yun maju ke barisan depan.
Di atas panggung sederhana, Yesung berdiri sambil menyanyikan lagu terakhirnya. Gadis-gadis bersorak ramai. Haejin diam, rasanya ia ingin berteriak juga. Tapi ia mencoba menjaga perasaan.
“annyeong semuanya. Seperti janjiku pada jumpa fans minggu lalu, aku akan mengaku.” Buka Yesung dengan suara emasnya.
“aku tidak tahu, kalian ini mengagumiku, suaraku, atau wajahku?” tanya Yesung. Gadis-gadis langsung berteriak, “SEMUANYAA”
Yesung tersenyum, “tapi ada seorang gadis yg ternyata sangat menyukaiku bukan karena aku seorang Yesung seperti yg kalian semua kenal. Dia sangat menyukaiku bukan karena suaraku, wajahku, ketenaranku, kekayaanku atau apapun yg aku punya sekarang..”
Suasana sunyi.
“dia sangat menyukaiku. Bahkan dua tahun sebelum aku memutuskan untuk menjadi seorang penyanyi. Dia sangat menyukaiku sebelum aku mengganti nama Jong Woon menjadi Yesung.
Dia mengatakan kalau dia mencintai Jong Woon, tapi ia takut untuk mencintai seorang Yesung. Kubalas setiap surat yg ia kirimkan setiap hari padaku. Aku bertanya padanya kenapa ia takut mencintai Yesung, bukankah setiap gadis lebih menyukai Yesung dari pada Jong Woon?”
“kalian tau apa yg dikatakannya?”
Tidak ada yg menjawab. Yesung tersenyum. Lalu menarik napas.
“aku akan membacakan surat yg dia kirimkan kepadaku. Aku sangat suka surat ini, meskipun tulisannya tidak seberapa bagus. Tapi aku sangat hafal isinya. Begini,...
Untuk Jong Woon.
Bukan untuk Yesung, jadi tidak perlu berdandan, selalu tersenyum atau bersikap baik.
Oke ?
Maaf selalu membebanimu dengan suratku. Tapi ini bukan surat fans terhadap idolanya kan?
Aku sudah mengatakan padamu kalau aku mencintaimu sebagai Jong Woon bukan sebagai Yesung. Dan kau bertanya kenapa ?
Karena, aku mencintai Jong Woon yg aku temui pertama kali di perpustakaan Seoul.
Aku mencintai Jong Woon dengan kacamata minusnya, bukan Yesung dengan softlens-nya.
Aku mencintai Jong Woon dengan wajah aneh yg kebingungan mencari buku, bukan wajah tampan Yesung yg kebingungan menghadapi fansnya.
Aku mencintai Jong Woon dengan topi merah favoritnya, bukan Yesung dengan kemeja dan dasi kupu-kupu.
Aku mencintai Jong Woon dengan segala kekurangannya, bukan Yesung dengan limpahan kelebihannya.
Dan aku mencintai Jong Woo sebagai dirinya sendiri, bukan Yesung yg berusaha selalu tampil baik tetapi bukan dirinya..”
Gadis-gadis bersorak lagi. entah sorakan apa. Haejin mendengus, Soo Yun menoleh.
“kau muak ya? kita pulang saja,” ajak Soo Yun.
Haejin mengangkat alis, “untuk apa? Sudah terlanjur, masa mau pulang?”
Soo Yun tersenyum, “Keure..”
Yesung menarik napas lagi.
“beberapa hari yg lalu aku bertemu dengannya. Dan aku sangat senang sekali akhirnya bisa menatap wajahnya secara langsung, bukan dari foto yg ia kirimkan. Tapi aku sedih.. karena hari bahagia itu mendadak jadi hari paling menyedihkan dalam hidupku. Karena apa? Hari itu ia mengirim surat terakhirnya. Dia bilang..
Untuk Jong Woon. Mungkin juga untuk Yesung.
Rasanya senang sekali bisa bertemu denganmu, dengan pakaian yg kau kenakan saat kita pertama kali bertemu.
Jeongmal mianhaeyo, sepertinya ini akan jadi surat terakhirku untukmu.
Kukira kau tetap Jong Woon yg kukenal dulu, tapi ternyata kau adalah Yesung. Jong Woon sudah hilang, entah kau sembunyikan dimana dia?
Aku mencintai Jong Woon, bukan Yesung.
Jeongmal kamsahamnida, Yesung untuk semua waktu yg kau sempatkan untuk membalas suratku padahal kau juga harus membalas jutaan surat dari idolamu..”
Yesung meremas tangannya. gadis-gadis sudah berteriak-teriak tidak terima.
“aku tahu, kau disini. Maka itu, aku ingin membalas suratmu secara lisan.
Untuk engkau yg mencintai Jong Woon, tapi bukan Yesung.
Aku sangat menyesal. Sangat amat menyesal. Maukah kau memaafkan aku dan teruslah mengirimiku surat? Karena suratmu lah yg membuatku tetap ingin menjadi Jong Woon meskipun aku seorang Yesung.
Kenapa? Karena aku ingin terus kau cintai..
Karena aku juga ingin mencintai gadis yang mencintaiku seperti adanya diriku..
Oh, bukan itu alasannya. Alasan sebenarnya adalah,
karena aku ingin mencintaimu karena kau seorang Soo Yun meskipun kau sudah tidak mencintai Jong Woon atau bahkan Yesung sekalipun..”
gemuruh suara gadis-gadis menjerit tidak percaya. Haejin memandang wajah kakaknya yg sedari tadi menunduk. Haejin menyenggol siku Soo Yun.
“hei, namamu dipanggil tuh.” Ucap Haejin.
Yesung turun dari panggung, menghampiri Soo Yun dan Haejin. Yesung memandang Haejin terlebih dahulu. “jangan buat aku kecewa untuk kedua kalinya..” ucap Haejin.
Yesung tersenyum dan langsung memeluk Haejin, “oh, kau memang adik yg sangat baik!”
Haejin kaget namun dengan cepat ia mengembalikan suasana hatinya.
Yesung menggendong Soo Yun dari kursi rodanya. Lalu membawanya ke panggung. Ratusan kamera langsung memotret dan cahaya blitz ada dimana-mana.
Yesung menyalakan mic-nya.
“kalian pasti menganggap aku bodoh karena telah memilih gadis yg bahkan berjalan saja menggunakan kursi roda. Kalian pasti menganggap aku bodoh karena bisa jatuh cinta dengan gadis yg berkomunikasi denganku lewat surat.”
Suara gadis-gadis dan wartawan berceloteh mengomentari.
“tapi gadis berkursi roda ini yg memandangku dan mencintaiku dari sudut pandang yg berbeda dengan kalian. Tapi gadis ini juga lah yg membuatku percaya bahwa diantara jutaan fans, dia satu-satunya pengirim surat dengan amplop polos tanpa parfum..”
Soo Yun yg ada dalam dekapan Yesung hanya bisa diam. “gadis ini yg menyadari bahwa akulah yg sengaja menyenggolnya hingga terjatuh tetapi tetap memaafkan aku. gadis ini juga lah yg selalu diam saat adiknya berceloteh panjang lebar memujaku padahal ia mencintaiku.” Tambah Yesung.
Haejin tertawa. Kyuhyun disampingnya jadi bingung.
“sebagai tanda maafku karena telah menyenggol kakakmu hingga jatuh di bis dan karena telah menabrak kakakmu hingga jatuh di tangga, aku akan selalu jadi kursi rodanya. Aku yang akan menjadi pegangan saat ia akan jatuh. Aku juga yg akan marah jika ada seseorang sengaja membuatnya terjatuh.” Ujar Yesung sambil menatap Haejin.
Haejin tertawa lagi. Kyuhyun mulai mengerti.
“tidak usah, tidak usah. Kau kan harus nyanyi, manggung, dan melakukan aktifitasmu, Yesung..” ucap Soo Yun menolak.
“siapa bilang Yesung akan melakukannya?” tanya Yesung. Soo Yun bingung.
“Jong Woon yg akan melakukannya. Jeongmal saranghaeyo, Soo Yun..” lanjut Yesung. Soo Yun tersenyum lalu berbisik, “saranghaeyo, Jong Woon..”
“HAEJIN, jangan patahkan leherku ya. aku akan menjaga kakakmu kok!” kata Yesung lagi.
Haejin mengacungkan jempolnya tinggi-tinggi. Lalu ia keluar dari kerumunan, Kyuhyun mengikutinya dari belakang.
“ternyata kau gadis yg sangat berhati besar ya, Haejin.” Puji Kyuhyun.
Haejin memukul kepala Kyuhyun pelan, “aku kan memuja Yesung sebagai penyanyi idola. Beda dengan kakakku yg mencintai Yesung sebagai Jong Woon. Ah kau ini bodoh sekali..”
Kyuhyun mengangguk-angguk, “haejin..”
“APAA?” tanya Haejin duduk di salah satu kursi dibawah pohon sambil memainkan kukunya.
“maukah kau mencintaiku sebagai Kyuhyun saja? Tanpa embel-embel ketua himpunan mahasiswa?” tanya Kyuhyun.
Haejin tertawa, “Hahaahahaahaha... kau mau merayuku dgn cara Yesung? Aaah~~ tidak mempaaan...”
Kyuhyun manyun, “ayolaah...”
Haejin tertawa tergelak, “hahaaha.. tidak ah.. aku mau punya pacar orang terkenal..”
Kyuhyun merajuk, memukul-mukul lengan Haejin.
“hei, sudah aku bilang aku mau punya pacar orang terkenal. Kau itu tidak terkenal. Sudah menyerah sajaaa.. hahahaha” Haejin tertawa.
Haejin meninggalkan Kyuhyun yang ikut tertawa karena ucapannya dianggap lelucon oleh Haejin. Setidaknya Haejin tetap bisa jadi sahabat yg baik walau Kyuhyun tidak bisa memiliki cintanya.

0 komentar:
Posting Komentar