author : vnes chullie
Lima tahun lalu, musim semi saat bunga-bunga bermekaran. Kau dan aku bertemu untuk yang pertama kali disebuah taman belakang kampus, kau tertidur sangat pulas diatas rumput hijau. Wajahmu sangat manis saat tertidur dengan bulu mata lentik membingkai matamu yang terpejam rapat. Bagai sebuah mimpi indah bisa bertemu denganmu, seorang actor dan penyanyi terkenal Kim Heechul.
“Yah! Kim Heechul, apa yang kamu lakukan disana?” Teriak seseorang yang membuatmu terbangun dari tidur nyenyakmu. Dan kamu pun pergi meninggalkan taman dengan sebuah senyum manis yang kamu berikan untukku.
“Gomawo, telah menemaniku disini.” Ucapmu yang kemudian berlari ke dalam gedung. Aku hanya bisa memandangi tubuhmu dengan balutan T-shirt berwarna pink, gaya mu memang aneh tapi entah mengapa aku sangat menyukai gaya mu itu.
“Kita selalu bersama selamanya”. Kalimat yang kau ucapkan untukku, waktu kita merayakan hari jadi yang pertama. Kita selalu melewati hari-hari bersama, dari hari menjadi bulan, dan kemudian menjadi tahun, kita selalu bersama menghadapi masa-masa sulit. Saat kamu di terpa gossip-gossip miring karena image-mu yang terlalu cantik untuk seorang pria, atau saat wartawan mengabadikan kebersamaan kita disebuah café, kamu pun selalu men-support-ku untuk bersabar. Walau kadang aku sebal, aku cemburu dengan para ELF yang selalu ada disisimu, aku tahu kamu dan ke 14 temanmu itu banyak dicintai oleh seluruh wanita dari penjuru dunia. Karena aku mencoba bertahan, aku bersabar walau hati ini sakit, karena aku sadar inilah resiko kalau menjalin cinta dengan seorang yang terkenal seperti kamu.
Waktu hari jadi kita yang kedua, kamu mengajak aku untuk menghabiskan waktu bersama, kamu menolak semua job dari jauh-jauh hari. Aku sangat terharu saat itu, walaupun akhirnya batal karena penyamaranmu tidak berhasil. Sangat lucu kalau mengingat kejadian itu, akhirnya kita hanya membeli makanan cepat saji dan meniknatinya dimobil yang kau parkir di tepi jalan di atas jembatan. Hembusan angin malam yang menjadi saksi bisu kita, dan membiaskan sepatah kata yang selalu menjadi penyemangatku “Na Kim Heechul, Park Minrin yeongweonhi saranghanda…” teriakmu dari luar mobil. Beruntung saat itu tidak banyak mobil yang lewat, dan aksi gila mu tidak di lihat orang.
Disebuah panggung kalian yang besar, kalian bagai sebuah miniature ditenga-tengah lautan biru. Lantunan lagu ‘marry u’ terngiang diseluruh ruangan indoor ini, saat Donghae melantunkan syair-nya kau menghampiri kursi penonton dan menarik ku keatas panggung. Seluruh ELF menjerit histeris atas kelakuan mu itu, aku tidak tahu rencana apa yang sedang kamu lakukan, karena kamu memang tidak pernah menceritakannya. Kamu pun melantunkan syair ‘Orae juhnbutoh noreul wihae junbihan, nae sone bitnaneun badajwo’ yang harusnya dinyanyikan oleh Kyuhyun dan kamu berlutut didepanku dengan sebuah kotak kaca kecil transparan. “Will you marry me?” Tanyamu padaku, yang disambut dengan suara jeritan ELF, aku hanya mengganggukan kepala sebagai jawaban “Ya, aku bersedia.”
Kau melamrku tepat dihari jadi kita di tahun ketiga.
Enam bulan sejak kejadian itu kita melangsungkan pernikahan. Bukan pesta yang mewah, karena itu kami hanya mengundang seluruh keluaraga dan teman-teman dekat saja. Dengan gaun putih itu aku menyusuri jalan beralaskan karpet merah, aku memasuki ruangan dengan nuansa romantis untuk sebuah gereja, didepan altar itu aku melihat sosokmu dengan badanmu tegap kau sangat pantas memakai setelan jas warna putih, kau benar-benar tampan. Denting-denting piano menjadi pengiring langkah ku, aku sangat tegang namun ketegangan itu hilang saat semua undangan tersenyum begitu pula dengan kamu. Dan kau meraih tanganku saat aku sampai didepan.
“Karena kedua mempelai sudah berada disini maka acaranya akan saya mulai.” Ucap Pendeta.
“Kim Heechul, di depan Altar Tuhan yang suci apa kamu bersedia menerima Park Minrin sebagai istrimu yang sah menurut Agama dan Negara? Selalu mencintainya dalam keadaan sehat maupun sakit, saat senang maupun susah?” Ucap Pendeta lagi.
“Ne! Saya bersedia.”
“Park Minrin, di depan Altar Tuhan yang suci apa kamu bersedia menerima Kim Heechul sebagai suamimu yang sah menurut agama dan Negara? Selalu mencintainya dalam keadaan sehat maupun sakit, saat senang maupun susah?”
“Ne. Saya bersedia.” Ucapku seraya menghapus air mataku yang sempat terjatuh dipipi.
“Mulai detik ini kalian sah sebagi suami istri.”
Heechul melingkarkan cincin bermatakan berlian itu kedalam jari manisku, dan aku juga melingkarkan cincin yang sama kedalam jari manis Heechul. Heechul mencium lembut bibirku.
Sekarang aku dan Heechul sedang menatikan kehadiran buah cinta kami yang pertama, dan kandunganku sudah memasuki bulan ke delapan. Tanpa terasa hari-hari yang kami lalui bersama sangat singkat, lima tahun yang singkat.
~The End~

0 komentar:
Posting Komentar