Rabu, 09 Desember 2009

Please Dont Tell Me The Truth (chapter 1)


author : park seong rin








Aku menyeruak masuk kedalam ruangan ber-cat abu-abu itu. Pertama kali yang kulihat adalah sosok seorang pria yang terduduk lemah di atas kursi bambu. Sebuah syhall hitam melilit rapat di lehernya. Matanya menatap lurus, tertuju pada jendela kaca besar, yang berada tepat dihadapannya.

Aku mematung, kuputuskan tetap diam disini untuk beberapa lama.
Aku hanya ingin melihat sikapnya yang tenang seperti ini, lebih lama. Pemandangan yang langka, mengingat dari dulu, sedetikpun dia tak pernah bisa diam.

Kini aku terus menatap punggungnya dari arah belakang. Sedetik, lima detik, sepuluh menit, dan tanpa terasa, sejam pun berlalu. Dan yang kulakukan selama 3600 detik ini adalah menikmati ketenangannya, dalam diam.

“ Haaii... lama tak bertemu. sudah tiga tahun, kamu ninggalin seoul” Kalimat yang harusnya kuucapakan satu jam yang lalu, baru sekarang mampu terlontar dari bibirku. Kuharap ia menoleh dan tersenyum lembut kepadaku. Tapi harapan itu pupus. Ia masih menatap lurus ke luar Jendela. Seolah tak menghiraukan kedatanganku.

“ Siapa yang memberi tahu kamu, bahwa aku sudah pulang?” nada ketus yang tiba-tiba meluncur cepat dari bibirnya, membuatku terhenyak. Sejak kapan dia bisa bersikap kasar sama perempuan? Terlebih ini aku, sahabatnya sejak kecil. Yang berada di hadapanku sekarang, nampak seperti bukan dirinya, tapi orang asing.

“ Kenapa? Kau tak suka aku datang?”

Ia kembali diam. Matanya tetap menatap kosong ke luar jendela. Sejak aku tiba satu jam lalu, sedetik pun matanya tak pernah menatapku. Aku melangkah pelan mendekatinya, memperkecil jarak diantara kami.
Bahkan saat sekarang aku berada tepat disebelahnya, dia tetap mengacuhkan pandangannya dariku. Seolah dia menganggapku tak pernah berdiri disini.

Aku mengikutinya, menatap ke arah luar jendela itu. Mencoba mencari tau, apa yang diperhatikannya sejak tadi. Hingga ia tak sedikit pun mengalihkan pandangan, bahkan untuk sahabat karibnya sendiri.

Yang terlihat hanya jalan kecil beraspal, yang sepi dan basah oleh hujan. Beberapa sepedamotor nampak melaju pelan. Pemandangan yang biasa, sama sekali tak ada yang istimewa.
Aku menatapnya, bingung.

“ Kim heechul, apa yg sedang kau lihat?” aku berbisik pelan, tepat di telinga kanannya.

“ Brrugghhh…” Pertanyaanku membuatnya tersentak kaget. Ia mendorong punggung, kebelakang. Menghasilakan suara nyaring akibat benturan tulang punggung dan badan kursi. Dan itu membuat kursi bambunya sedikit oleng.

“ Mian. Kau baik-baik saja kan?”

“ tidak!!! Semuanya tak baik-baik aja..” Chullie oppa membuka suaranya untuk yang kedua kali. Lagi-lagi ketus.

“ Punggung oppa luka?”

“ Seong Hyun..,,, kenyataannya keadaanku jauh lebih buruk dari itu” Zeetzzz… kata-kata yang keluar dari mulut Oppa, kini membuat lidahku kelu.

Jauh lebih buruk? Maksudnya? Kenapa Heechul ngomong gitu?
Pertanyaan-pertanyaan itu terus berkecambuk dibenakku. Ingin kulontarkan semua pertanyaan itu kearahnya. Tapi mulutku terasa terkunci, dan aku hanya bisa diam. Sedetik kemudian, sebuah pernyataan memilukan dari seorang Kim Heechul menjawab semua pertanyaanku.

“ kau ingin tau kenyataannya, Seong Hyun?? Sekarang Aku Buta…Buta. Semuanya terlihat gelap di mata aku. Dan mungkin aku tak akan pernah bisa liat wajah kamu lagi. Tak akan pernah bisa…”




~to be continued~

0 komentar:

Posting Komentar