Kamis, 10 Desember 2009

Dear Diary (part 2)


author : vNez chullie 







Saat sampai ke rumah ternyata Junghee sudah pulang, Yura memberi kode kalau dia ingin kekamar untuk istirahat, waktu Junghee menanyakan hasil pemeriksaan tdai. Yura menysuri anak tangga menuju lantai 2, dia menjatuhkan tubuhnya kekasur.

“Huff~” Keluhnya, dan dia membuka laci untuk mengambil Diary.

Dear Diary, hari ini aku ke rumah sakit untuk memeriksa kondisiku. Dan kamu tau apa hasilnya? Dokter bilang umurku tidak lebih dari 4 bulan, seandainya selama 4 bulan itu ada pendonor maka hidupku akan terselamatkan.
Diary, aku sudah berbohong pada Donghae. Aku bilang kalau aku sudah mendapatkan donor, aku mengatakan itu agar dia tidak bersedih, apa aku salah? Dan mulai minggu depan aku akan melakukan chemotherapy, aku tidak bisa membayangkan saat aku chemo apa yang akan terjadi. Aku benar-benar takut, sangat takut sampai untuk memejamkan mata sebentar saja aku tidak sanggup. Adakah yang ingin medonorkan sumsum tulang belakangnya untukku?
Aku harus mengatakan hal ini pada omma, tapi aku sangat takut omma akan semakin sedih. Aku bingung, sangat bingung bagaimana cara menghadapi omma, Junghee, dan Donghae. Apa kamu bisa menghentikan waktu Diary? Atau apakah ada orang yang bisa menghentikan waktu untuk selamanya?


“Junghee ya, noona ingin bicara.” Ucap Yura saat tiba di ruang keluarga.
“Wae? Aku sedang bertarung melawan Kyuhyun hyung nih.” Ucapnya acuh tak acuh.
“Arasseo, noona kembali saja ke kamar.” Yura pun beranjak dari sofanya, namun Junghee menarik lengannya.
“Chankaman, noona jangan marah dong setelah ini kita akan bicara, bisa kan?” mendengar ucapan Junghee, Yura pun menganggukan kepalanya. Setelah menunggu sekitar 10 menit, mereka pun duduk bersama di sofa.
“Ada apa noona?” Junghee pun membuka obrolan.
“Aniyo, aku hanya ingin seperti ini saja. Aku ingin bisa duduk bersama untuk berbincang denganmu, bagaimana dengan sekolahmu? Apa kamu sudah ada pacar?”
“Noona kamu kenapa? Kenapa kamu menanyakan hal-hal yang tidak pernah kamu tanyakan?”
“Sebagai noona aku ingin tau bagaimana sekolah dan kehidupanmu. Sudah cepat ceritakan.”
“Arasseo, sekolahku biasa saja, tapi aku terpilih sebagai kapten team basket, dan bulan depan akan mengadakan pertandingan persahabatan. Aku belum punya pacar, tapi ada seseorang yang aku suka, dan aku tidak bisa mengatakan perasaan ini. Hehehe.” Ucap Junghee sembari menggaruk kepalanya karena dia belum keramas selama seminggu.
“Benarkah kamu menjadi kapten? Kenapa tidak pernah cerita? Siapa gadis itu, cepat beritau noona.” Tanya Yura antusias.
“Iya sudah dari 2 bulan lalu, aku bingung harus mulai dari mana saat ingin memberitaukan hal ini. Dia murid yang sama di sekolahku, tapi kami beda kelas. Aku tidak bisa bilang karena sangat menyukai hyung-nya Kyuhyun.”
“Maksud mu karena aku berteman dengan mereka? makanya kamu tidak berani menyatakan cinta? Babo!!”
Donghae, Leeteuk, dan Kyuhyun mereka adalah kakak beradik, sebenarnya ada satu deongsaeng lagi bernama Henry, namun dari SD Henry tinggal di Canada bersama halmoni-nya. Mereka bertiga memang terkenal disekolah Junghee, karena pacar Kyuhyun bersekolah disana.
“BINGO!!” Teriak Junghee. “Tapi sebenarnya yang menjadi masalah hanya dengan Donghae hyung saja, kalau kamu dekat dengan Leeteuk hyung sih tidak masalah. Hehehe.”
“Wae yo?”
“Masa noona tidak bisa merasakannya? Apa kamu tidak sadar kalau sebenarnya Donghae sangat-sangat menyukaimu? Dan aku tidak mau kalau gadis itu merusak hubungan kalian.”
“Mwot? Donghae menyukai aku? Hahaha…. Jangan ngawur kamu.” Yura mengacak-acak rambut Junghee dan ketombenya pun berjatuhan.
“Aku tidak bercanda, dari tatapan matanya saat memandangmu saja aku sudah tau itu.”
“Terserahlah, yang pasti noona tidak percaya. Apa gadis itu cantik?”
“Hmm. Cantik, tapi noona jauh lebih cantik. Hehehe..”
“Gomawo, dengan wajah noona seperti ini kamu masih bilang noona cantik. Sudahlah noona ingin kembali kekamar, masih banyak tugas yang harus noona kerjakan.” Yura pun beranjak dari sofa itu dan naik ke lantai dua.

“Omma.” Teriak Yura saat omma-nya masuk ke kamar Yura.
“Bagaimana hasil pemeriksaan tadi?”
Yura menceritakan semua hasil pemeriksaan itu dan seperti dugaannya omma sangat terpukul akan hal tersebut. Yura menangis dipelukan omma, dia tau omma juga ingin menangis namun omma tetap menenangkan Yura.
“Gwaenchana, omma yakin kamu pasti akan mendapatkan pendonor yang tepat.”
“Itu tidak mungkin omma. Aku sudah tidak ada harapan untuk hidup.”
“Tidak, kesempatan kamu untuk hidup masih banyak. Karena masih banyak pula hal yang belum sempat kamu lakukan, jadi kamu tidak boleh putus asa. Kamu harus ingat omma, Junghee, Donghae, Club no.1, dan teman-teman selalu memberimu semangat. Arasseo?” mendengar ucapan omma Yura pun mengangguk dan menghapus air matanya.


*****

Hari-hari melakukan chemotherapy pun sudah dimulai, hari ini Yura meminta izin untuk tidak masuk sekolah, begitu pula dengan omma yang tidak masuk kerja.
“Annyeonghaseyo.” Sapa Yura seraya membungkukkan badan saat masuk ke ruangan dokter Lee.
“Ne, annyeonghaseyo Yura ssi. Kamu sudah siap untuk therapy?”
“Ne.” jawab Yura singkat, sebenarnya dalam hati Yura sangatlah tidak siap, tapi demi kesembuhan dia harus melakukannya.
Dokter Lee pun memulai therapy itu, sekitar 30 menit di chemo Yura pun muntah-muntah, tatapan matanya kosong. Dia menahan rasa ngilu itu sekuat tenaganya, tapi rasa ngilu itu semakin menjadi-jadi sampai akhirnya Yura menangis.
“Gwaenchana Yura-ya.”
“Badanku sangat sakit omma.” Ucap Yura dengan badan bergetar karena menangis.
“Gwaenchana Yura, kamu harus bertahan.” Yura menggelengkan kepalanya.
“Kamu harus kuat karena Donghae akan kesini bersama beberapa teman-nya. Kamu tidak boleh sedih ya, mereka sengaja meluangkan waktu untukmu.” Ucap omma seraya mengelus lembut pipi Yura dan menghapus air matanya.
“Ne. Mianhae omma kalau aku tidak bisa hidup dengan sehat dan selalu membuat omma repot. Jwoisonghamnida omma.”
“Gwaennchanayo. Ini bukan salah Yura karena mendapat penyakit ini, dan omma tidak pernah merasa direpotkan olehmu. Yura harus kuat agar bisa bersama omma selamanya.”

Jam 4 sore Donghae, Yesung dan Sungmin datang ke Rumah Sakit tempat Yura dirawat, mereka datang dengan sekeranjang buah di tangan Yesung.
“Annyeonghaseyo ahjuma.” Sapa mereka kepada wanita setengah baya itu.
“Annyeonghaeseyo.”
“Yura bagaimana kondisimu?” Tanya Donghae.
“Sangat tidak baik.” Ucap Yura singkat.
“Walaupun begitu kamu harus tetap kuat.” Ucap Sungmin sambil mengelus lembut kepala Yura.
“Gomawo. Chongmal Gomawo kalian mau menyempatkan datang kesini, dan selalu mendukungku.”
“Cheonmanaeyo.” Ucap mereka bersamaan.
Mereka mengobrol sambil memakan buah yang mereka dan juga sudah dikupas omma. Karena Yura bosan berada dikamar, Donghae dan Sungmin mengajaknya ke taman di Rumah Sakit itu, sedangkan Yesung menemani omma di kamar.
“Aa~ Senangnya bisa keluar dari ruangan sumpak itu.”
“Apa kamu begitu senang?” Tanya Sungmin.
“Tentu saja, sangat-sangat senang malah.”
Mereka duduk di kursi taman tersebut, disana banyak sekali anak-anak yang bermain. Donghae mambawakan mereka minuman yang baru di belinya di minimarket Rumah Sakit.
“Gomawoyo Oppa.”
“Hmm. Apa temanmu sudah ada yang menjenguk mu?”
“Belum, dan aku rasa mereka tidak akan menjengukku. Mereka sangat sibuk dengan urusan masing-masing dan juga belajar.” Jawab Yura tersenyum, namun raut wajahnya tampak kekecewaan.
“Oh. Sampai kapan kamu berada disini?” Tanya Sungmin mengalihkan pembicaraan.
“Sepertinya sampai akhir bulan ini. Wae yo?”
“Kami dan yang lain punya rencana untuk mu, kami ingin menghabiskan liburan kuliah bersama kamu dan rencananya akan ke pulau Jeju. Apa kamu mau?”
“Jincha? Tentu saja aku mau. Aku harap saat itu aku sudah benar-benar sembuh.” Ucap Yura penuh semangat, sama sekali tidak seperti orang yang sedang sakit.
Setelah puas berada di taman Yura mengajak mereka kembali ke kamarnya. Tak lama mereka kembali, Yesung, Sungmin, dan Donghae pamit pulang, karena Donghae masih harus kerja sift malam. Mereka janji kalau ada waktu luang akan berkunjung kesana.

Dear Diary.
Aku senang karena tadi Club no.1 datang menjengukku, dia adalah Yesung oppa, Donghae oppa dan Sungmin oppa. Donghae dan Sungmin mengajakku ke taman dan berbincang-bincang, mereka juga mengajak aku ke Pulau Jeju kalau aku sudah keluar dari rumah sakit ini. Mereka juga membawakan banyak buah, walau pun mereka tidak bawa buah pun aku senang asal mereka bisa menjengukku. Baiklah Diary sekarang sudah malam omma pun sudah tidur, besok pagi aku akan therapy jadi sekarang aku ingin tidur. Selamat malam Diary.

Yura pun menutup buku tersebut dan meletakannya dibawah bantal.



~to be continued~

3 komentar:

Assri Elfishy mengatakan...

mata qu agak min neh..
jangan kekecilan tulisannya...
qu pusing klo liat. huhu.... T.T

asha nyonyatuki leesarang mengatakan...

mian mian .
aku ganti deh :)

Assri Elfishy mengatakan...

kok belum diganti??
*onnie sha: assri, lo crewet banget sih?*

Posting Komentar