Senin, 14 Desember 2009

oneshoot : Silent


Seorang gadis kecil tersungkur lemah di pojok ruangan. Ia memeluk erat kedua lututnya. Air matanya telah mengalir lama sejak tadi. Wajahnya nampak sangat ketakutan...


“appa... jangan!! kasian amma.. hiks...” serunya sambil terus menangis. Bagaimana tidak?? Ia melihat amma dipukuli oleh appa di depan matanya sendiri. Sungguh pemandangan yang miris bagi seorang anak berusia 8 tahun yang belum mengerti apa-apa.


“diam kau bocah...!!” appanya membentak..


“hiks... hiks... appa, jangan...” gadis kecil itu memeluk lututnya lebih erat. Ia takut, tapi ia kasian melihat ammanya yang terus merintih kesakitan.


“Diam!! appa bilang Diam!!” appanya kembali menggertak dengan nada lebih tinggi.


“huuu.... hiks..hiks...” ia mencoba diam, tapi ia tetap tak bisa menahan isak tangis, ia takut, sangat takut. Ia takut jika ammanya mati.


“jika kau tidak diam juga, appa akan memukulmu” lelaki yang dipanggil appa itu menatap garang ke arah anaknya, tangannya mulai mengepal.


“appa bilang... Diam!! Diam!! Diam!!”



***


Gadis kecil 12 tahun yang lalu itu adalah aku...

yah, itu aku. Lee Sarang...,

gadis berusia 20 tahun yang selalu dianggap aneh oleh semua orang.


Mereka selalu mengira aku bisu. Aku bisa menerimanya, mengingat setelah kematian amma, aku memang selalu diam, bungkam, tak pernah bicara sepatah kata pun. bahkan aku saja sudah lama tidak mendengar suaraku sendiri.


Aku bukan tidak ingin bicara, tapi aku takut... aku takut bicara...

karena appa selalu menyuruhku untuk diam, diam, dan terus diam.

Yah, terauma masa kecil itu, tragedi pemukulan yang dilakukan appa sehingga membuat amma meninggal. Bahkan sampai sekarang aku tak tau masalah apa yang membuat appa sampai tega memukuli amma hingga beliau merenggangkan nyawa.


“huft.. huft... Lee Sarang!!” sebuah suara memanggilku dari arah belakang. Aku menoleh pelan, lalu tersenyum tipis.


ah... ternyata dia... namanya Park Jungsoo,

pria yang akhir-akhir ini sering menemaniku jalan-jalan di taman ini. Entah kenapa, dia tak pernah bosan menemaniku, padahal aku selalu diam dan tak pernah membuka suaraku untuknya. Yah, hanya sesekali tersenyum, menggeleng dan menganggukan kepala saja.


Sekarang dia berdiri dibelakangku, badannya membungkuk sambil memegangi lutut, keringat dan peluh membasahi wajahnya. Kelelahan, rasanya dia tadi habis berlari.


“kenapa kau tak menungguku dulu sih?” ia bersungut pelan seraya menggembungkan pipinya.

Aku hanya menggeleng-gelengkan kepala, lalu berjalan kearahnya.


“aku tadi bertanya kepada hyon jhi ahjumma. Dia menceritakan semuanya padaku” ujarnya sambil menatapku lekat.


Hemhh... Hyo jhi ahjumma itu tetanggaku. Dia sangat dekat denganku, bahkan aku menganggapnya sebagai pengganti amma. Jadi dia telah menceritakan semuanya pada pria ini?


“aku sekarang tau terauma masa kecilmu. Ternyata kau punya pengalaman hidup yang seperti itu ya? ah... aku turut prihatin” tuturnya, aku hanya tersenyum pahit.


“aku selalu merasa kau punya beban berat yang ingin kau katakan. Apa kau tak ingin mengatakannya padaku?” ia bertanya. Dan aku hanya menggeleng pelan.


“bicaralah... bagi sedikit bebanmu. Bicaralah... walau hanya satu kata...” Ia menggenggam erat kedua pundakku, lalu menatapku, dalam.


“kumohon, bicaralah.. walau hanya padaku, tapi bicaralah” Park Jungsoo, sekarang ia nampak seperti seorang oppa bagiku. Ia tampak begitu menyayangiku... apa aku harus bicara padanya??


“ayo,.. bicaralah padaku. Dan aku tak akan pernah menyuruhmu untuk diam” Ia tersenyum lembut sambil tetap menatap mataku. Membuat aku mulai luluh, hatiku trenyuh akan kehangatan sikapnya...

kurasakan air mataku mulai mengalir....


“a..aku....” lirih, aku mulai berujar. ah... suara ini, sudah lama aku tak mendengar suaraku ini.. tapi aku ragu untuk meneruskannya. Tapi kemudian, kulihat sosok Park Jungsoo itu tersenyum, seolah mencoba menuntun kata-kataku...


“aku.. aku benci appa...” tangisku tiba-tiba tumpah. Dan aku segera memeluknya, erat. Sekarang aku terisak didalam pelukannya. Hangat...


“Lee Sarang.. sekarang kau tak perlu diam lagi padaku!!” Ia berujar lembut seraya membelai rambutku dengan penuh kasih sayang..



~the end~

4 komentar:

Assri Elfishy mengatakan...

aku....
pake namanya onnie asha...
tpi blm minta izin. hehehe...
Mianhae onnie.. ^^

asha nyonyatuki leesarang mengatakan...

nyahahaha.
gwaenchanaaa .
malahan seneng kok :)

sung young mengatakan...

ini ff sapa onnie sha apa onnie sri ??
*bngg* tpi tetep bagus ,,

Assri Elfishy mengatakan...

@onnie sha: kpan2 bikinin yang qu ama hae dunk!! sbagai imbalan. hehehe...

@anggra: ini gua yang bikin. gua yang bikin!! *teriak2 gaje smbil muterin kampung*

Posting Komentar